EEG (Eleketro Ensefalo Gram)

[slideshow_deploy id=’181′]

Elektroensefalogram (EEG) adalah salah satu tes yang dilakukan untuk mengukur aktivitas kelistrikan dari otak untuk mendeteksi adanya kelainan dari otak. Tindakan ini menggunakan sensor khusus yaitu elektroda yang dipasang di kepala dan dihubungkan melalui kabel menuju komputer. EEG akan merekam aktivitas elektrik dari otak, yang direpresentasikan dalam bentuk garis gelombang.

Siapa yang memerlukan tes ini dan apa hasil yang diharapkan?

Pemeriksaan EEG umum dilakukan dengan indikasi sebagai berikut:
•Epilepsi
•Demensia
•Norkolepsi
•Abnormalitas sistem saraf
•Abnormalitas pada otak atau tulang belakang
•Kelainan mental

Pasien yang menunjukkan adanya kelainan pada otak diindikasikan untuk melakukan tes EEG untuk diagnosa lebih lanjut. Bagaimanapun, EEG juga dipakai untuk memeriksa hal-hal lain selain keperluan diagnosis. EEG dapat menentukan seberapa besar kemungkinan pasien yang sedang dalam status koma dapat kembali sadar, juga memonitor aktivitas dari jantung di bawah pengaruh anastesi.

Penentuan diagnosis abnormal atau normal ditentukan oleh pola dari gelombang elektrik otak. Terdapat beberapa tipe gelombang elektrik otak yang dapat dihasilkan dari tes EEG, di antaranya adalah:

•Gelombang alpha – gelombang alpha memiliki frekuensi sebesar 8 sampai 12 siklus per detik. Gelombang ini hanya terjadi ketika dalam keadaan sadar sepenuhnya ataupun dengan saat mata tertutup.

•Gelombang beta – gelombang beta memiliki frekuensi sebesar 13 sampai 30 siklus, dan terjadi ketika dalam keadaan sadar.

•Gelombang delta – gelombang delta terjadi ketika tidur. Gelombang ini juta umum ditemukan pada anak kecil.

•Gelombang theta – Seperti gelombang delta, gelombang theta terjadi dalam fase tidur, dan memiliki 4 sampai 7 siklus per detik

Aktivitas normal otak memiliki gelombang alpha atau beta ketika tidur dan memiliki pola aktivitas otak yang sama antar kedua belah otak. Otak tidak seharusnya mengalami sebuah ledakan aktivitas atau sesuatu yang dapat memperlambat aktivitas kelistrikan otak. Saat tes dilakukan, pasien akan dirangsang dengan cahaya untuk mengetahui respon dari otak, ketika otak merespon dalam level normal maka aktivitas kelistrikan otak dapat dikatakan dalam kondisi baik.

Sebaliknya, aktivitas kelistrikan otak dikatakan tidak normal ketika kedua belah otak memiliki pola gelombang yang berbeda atau menunjukan adanya aktivitas kelistrikan yang tajam. Ketika gelombang delta dan theta ditemukan saat pasien dalam kondisi sadar, maka hal ini dianggap sebagai sesuatu yang tidak biasa. Sebuah lonjakan tajam dari gelombang aktivitas otak harus menjadi perhatian dokter karena dapat menunjukan adanya gejala tumor otak, epilepsi, infeksi atau stroke. Sebaliknya, ketika tidak ada gelombang otak yang terdeteksi, maka pasien dapat diindikasikan dalam keadaan koma.

Selain mendeteksi keberadaan suatu kelainan, EEG juga menentukan abnormalitas dalam aktivitas otak. hal ini sangat penting untuk menetukan tipe dari epilepsi atau kejang yang dialami pasien. Namun, ketika EEG dipasang pada pasien epileps, sela-sela waktu pasien kejang dapat menunjukan hasil rekaman yang normal.

Bagaimana tindakan ini bekerja?

Ketika pasien disarankan untuk melaksanakan tes EEG, beberapa persiapan penting untuk dilakukan sehari sebelum tes berlangsung. Pasien harus menghindari konsumsi dari zat sedatif, obat penenang, obat-obatan yang berefeksamping mengantuk, kopi, teh, soda, dan cokelat. Kepala juga harus dipastikan dalam kondisi bersih, karena dalam tindakan ini akan ditempelkan piringan metal pada kulit kepala. Hindari penggunaan minyak, kondisioner, krim, atau spray rambut sebelum pergi ke rumah sakit. Beberapa dokter juga menyarankan untuk mengurangi lama tidur beberpa jam sebelum melakukan tes karena nantinya pasien akan diminta untuk tidur selama proses tes berlangsung.

EEG biasa dilakukan di rumah sakit di bawah pengawasan dari petugas EEG. Pasien berbaring dan tindakan dimulai dengan menempelken piringan metal atau elektroda pada beberapa titik di kepala pasien. Piringan metal ini dilekatkan menggunakan pasta yang lengket, ataupun jarum. Terkadang, beberapa elektroda yang ditempelkan pada kepala digantikan dengan sebuah penutup kepala yang dimana terdapat elektroda elektroda yang telah terpasang. Elektroda ini akan dihubungkan dengan komputer, di mana aktivitas elektrik dari otak dapat terekam.

Ketika tindakan sedang berlangsung pasien akan diminta untuk diam berbaring dan tidak tidak diperbolehkan untuk berbicara. Petugas EEG akan mengamati dari jendela dan meminta pasien unutk melakukan beberapa hal yang diperlukan untuk keperluan diagnosis, seperti:
•Bernapas dalam dan cepat selama 2 menit
•Melihat pancaran cahaya
•Tidur (jika pasien sulit untuk tidur, obat penenang dapat diberikan)

Tes biasa dilakukan selama 1 sampai 2 jam. Namun, ketika tes dilakukan diperlukan untuk mengamati masalah yang berhubungan dengan tidur, maka tes dilakukan selama pasien tertidur.

Tes EEG tidak menimbulkan sakit kepada pasien. Namun, ketika tes ini menggunakan jarum sebagai pengganti pasta lengket, sensasi tusukan dapat dirasakan pasien selama jarum dipasang. Ketika menggunakan pasta, pasta mungkin tertinggal di rambut pasien yang digunakan untuk menempelkan elektroda pada kulit kepala.

Komplikasi dan Risiko

Pemeriksaan EEG merupakan tes yang aman dengan risiko komplikasi yang sangat kecil karena jumlah arus listrik yang dialirkan tidak akan mencapai keseluruhan tubuh. Satu-satunya kemungkinan komplikasi yang mempengaruhi pasien dengan gangguan kejang, seperti pancaran cahaya yang merupakan bagian dari tes dapat memicu serangan kejang. Dengan demikian, petugas EEG melakukan beberapa tes sebagai tindakan pencegahan ketika melakukan tes pada pasien dengan epilepsi atau gangguan kejang lainnya.

Rujukan:
•Salisbury D. “Clinical EEG and Neuroscience.” Journal of the EEG and Clinical Neuroscience Study.
•Song Y. (2011). “A review of developments of EEG-based automatic medical support systems for epilepsy diagnosis and seizure detection.” Scientific Research.
•Duffy F., Shankardass A. et al. (2013). “The relationship of Asperger’s syndrome to autism: a preliminary EEG coherence study.” BMC Medicine.
•British Medical Journal: “The EEG Apparatus.”
•Noor Kamal Al-Qazzaz, Sawal Hamid Bin Ali, Siti Anom Ahmad, et al. (2014). “Role of EEG as Biomarker in the Early Detection and Classification of Dementia.” The Scientific World Journal.

sumber : https://www.docdoc.com/id/id/info/procedure/elektroenselografi

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Top